JANGAN BUAT SAKIT ORANG BILA TIDAK INGIN DI SAKITI ORANG"
BERITA BARU

Surat Terbuka Untuk Panglima TNI Dan Para Purnawirawan Jenderal Dari Farieda Nur Aini

February 22, 2016 1867
  
Assalaamualaikum Warohmatulloohi wa barokaatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.

Perkenankan saya menulis Surat Terbuka kepada Panglima TNI dan para purnawirawan Jenderal TNI yg masih memiliki hati nurani, nasionalisme dan jiwa patriot.

Saya hanya ibu rumah tangga biasa, yang mungkin mewakili suara hati jutaaan rakyat RI yg saat ini merasa khawatir dan miris dgn keadaan negeri tercinta serta kelangsungan generasi penerus kelak.

Bukan sekedar kabar di berbagai media bahwa penghidupan bertambah sulit, rakyat diadu domba, agama dilecehkan, asset negara digadaikan, segala macam aliran kesesatan diberi ruang dgn bebas, hukum dibuat porak poranda, legislatif dan yudikatif dibungkam, pengalihan isu korupsi dan kasus2 besar lewat isu2 murahan bahkan media massa pun disetir hingga luput memberitakan hal2 esensial kenegaraan.

Bapak Panglima TNI dan para purnawirawan Jenderal yang terhormat.

Sekali lagi, saya hanya rakyat yg sangat biasa, yg ingin bertanya kepada anda semua yg di mata saya sungguh luar biasa.

Tidakkah hati nurani dan jiwa patriotisme anda tersentuh melihat kehancuran megeri yg terasa semakin nyata di depan mata ?

Tidakkah jiwa anda semua yg dulu digodok di kawah candradimuka Lembah Tidar tergerak mendengar tangis rakyat yg teraniaya ?

Bapak Panglima TNI yang terhormat.
Saat ini anda memegang tongkat komando sebagai pemimpin militer sebuah negara besar bernama Republik Indonesia.

Para purnawirawan Jenderal TNI, saya yakin Bapak2 yg hebat ini masih punya akses dan pengaruh yg besar di tubuh TNI.

Tidakkah itu bisa menjadi sebuah kekuatan dahsyat jika bersinergi dgn seluruh rakyat ?
Kami menunggu komando anda semua untuk bergerak bersama memperbaiki keadaan negara yg nyaris lumpuh dan tercerai berai ini.

Negara sudah oleng, Captain. Keadaan sudah SOS !
Hampir tak ada waktu untuk sekedar bilang : TAPI atau NANTI !

Kami yakin, anda semua tau apa yg harus dilakukan. Bergeraklah tanpa ragu.

Inilah unek2 seorang rakyat biasa, yang sangat khawatir dgn kondisi negerinya. Mohon maaf jika ada hal yg kurang berkenan.

Wassalaamu ‘alaikum.

Bandung, 22 Februari 2016

Salam dari rakyat yg teramat biasa
Untuk para pemimpin yg luar biasa.
 

Dokumen Rencana Pemberontakan PKI Ditemukan?



 
Dokumen Rencana Pemberontakan PKI Ditemukan?

Ahli sejarah Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Aminuddin Kasdi menemukan dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI dengan target mendirikan negara komunis di Indonesia.
"Jadi, pengakuan pihak tertentu ada skenario ABRI melakukan penangkapan orang-orang PKI setelah Oktober atau ada pembantaian terencana oleh NU terhadap PKI, ternyata tidak didukung bukti historis," katanya di Surabaya, Senin (30/6/2014) seperti dikutip ANTARA.

Menurut dia, fakta yang sebenarnya justru ada dalam buku kecil atau buku saku tentang ABC Revolusi yang ditulis CC (Committe Central) PKI pada 1957, yang merinci tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI tentang negara komunis di Indonesia.

"Buku yang saya temukan itu justru membuktikan bahwa rencana pemberontakan PKI yang diragukan sejumlah pihak itu ada dokumen historisnya, bahkan dokumen itu merinci tiga tahapan pemberontakan PKI yang semuanya gagal, lalu rumorpun diembuskan untuk mengaburkan fakta," katanya.

Tanpa menyebut asal-usul dokumen yang terlihat lusuh itu, ia mengaku bersyukur dengan temuan dokumen yang tak terbantahkan itu. "Kalau ada orang NU melakukan pembunuhan, itu bukan direncanakan, tapi reaksi atas sikap PKI sendiri yang menyebabkan chaos itu," katanya.

Ia menjelaskan sikap PKI memang menyakitkan, sehingga NU melakukan reaksi balik. "PKI melakukan provokasi dengan ludruk yang temanya menyakitkan, seperti matinya Tuhan, malaikat yang tidak menikah karena belum dikhitan, dan banyak lagi," katanya.
Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat jangan terpengaruh dengan provokasi politik yang didukung media massa untuk "membesarkan" PKI guna mengaburkan sejarah dengan menghalalkan segala cara.

"Kita jangan terpancing dengan sisa-sisa orang PKI di berbagai lini yang berusaha membangkitkan mimpi tentang negara komunis melalui media massa, buku-buku, dan semacamnya yang seolah-olah benar dengan bersumber kesaksian," kata dia.

"Ada sisa-sisa PKI bercokol di media massa," katanya pula.

Ia menambahkan, testimoni berbagai pihak itu mungkin benar, namun testimoni itu bersumber dari individu-individu yang tidak mengetahui skenario besar dari PKI untuk merancang tiga revolusi dengan goal untuk mendirikan negara komunis di Indonesia.

"Saya bukan hanya bersaksi, karena saya juga sempat mengalami sejarah pemberontakan PKI itu dan lebih dari itu, saya mempunyai bukti yang sangat gamblang dari dokumen PKI sendiri," katanya.

Senada dengan itu, guru besar Universitas dr Soetomo Surabaya, Prof Dr Sam Abede Pareno, menyatakan, buku Memoir on The Formation of Malaysia, karya Ghazali Shafie terbitan Universiti Kebangsaan Malaysia, menunjukkan kaitan erat Konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan PKI.

"Dalam buku itu jelas Bung Karno tidak menghadiri persidangan puncak dengan Tungku Abdul Rachman di Tokyo pada tahun 1963, karena PKI tidak suka dengan pertemuan itu," kata penulis buku Rumpun Melayu, Mitos dan Realitas itu.

Oleh karena itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia itu bukan sekadar demo anti-Indonesia atau demo anti-Malaysia, melainkan PKI merancang konfrontasi itu agar rencana besar (negara komunis) tidak "terbaca".
Apalagi Bung Karno melontarkan gagasan nasionalis, agama, dan komunis yang justru "melindungi" gerakan PKI.

"PKI memang selalu memanfaatkan kelengahan pemerintah Indonesia yang sibuk menghadapi Agresi Militer I Belanda pada 1947 dengan aksi terpusat di Madiun pada 1948," katanya.

"Lalu ketika pemerintah sibuk dengan Ganyang Malaysia yang juga mereka sponsori itu, PKI menikam dari belakang dengan Gerakan 30 September 1965," katanya.

Pada Juli ini juga ada beberapa agenda besar nasional, di antara yang terbesar adalah Pemilu Presiden 9 Juli 2014, nanti yang menyerap sejumlah besar pengerahan sumber daya nasional.

Sumber: http://www.beritalangitan.com/index.php/berita/item/328-heboh-dokumen-rencana-pemberontakan-pki-ditemukan
 

ISIS Pengalihan Isu PKI?


  


ISIS Pengalihan Isu PKI?

Untuk menganalisa ISIS, cukup dengan melihat media-media mana yang gencar memuat berita tentang ISIS? Jika media-media yang masif publikasikan ISIS media-media pro Jokowi maka, rakyat pantas curiga bahwa isu ISIS adalah untuk pengalihan isu tertentu.

Media-media pro Jokowi (milik konglo cina / bayaran) al : First Media Grup (48 Media), Kompas Grup (16 Media), TEMPO (grafiti grup: 4 media)

Salim Grup (Trans Corp, Mega Grup, Para Grup dll), SCTV, Jawa Pos Grup JPNN (154 media) dll.

ISIS boleh kita cermati sebagai bentuk kewaspadaan saja. Isu ini tidak relevan karena embrio nya selama ini tidak ada! Mendadak muncul? Aneh?

Lebih aneh lagi ketika ISIS muncul saat isu Jokowi adalah PKI, ibunya Gerwani, ayahnya ketua OPR PKI, Omnya Miyono Pemuda Rakyat PKI?

TNI ngaku kecolongan dengan status PKI Jokowi. Tapi kami tidak percaya pada pengakuan TNI itu. Mustahil TNI tidak tahu? Fakta-fakta nya telanjang!

Fakta 1. Sampai hari ini Jokowi tidak mampu buktikan keberadaan akte kelahiran, surat nikah asli, kartu keluarga asli dst. Kenapa?

Fakta 2: Nama ayah Jokowi sudah terbukti adalah Widjiatno, bukan Noto Mihardjo? Widjiatno eks Ketua OPR PKI Boyolali.

Fakta 3. Sudah terbukti Jokowi dilahirkan di Giriroto, Ngemplak, Boyolali tahun 1961. Bukan di RS Brayat Minulyo. Bukan di Kali Pepe, Solo.

Fakta 4. Sudah terbukti keluarga Jokowi bukan keluarga miskin. Kakeknya Lurah Kragan. Tuan Tanah, pemilik Huller Kedungredjo, Kragan.

Fakta 5. Jokowi sengaja sembunyikan adik-adik ayahnya (4 orang) agar tidak dapat dihubungi untuk dapatkan kesaksian mereka tentang Widjiatno & PKI!

Fakta 6. Widjiatno ayah Jokowi pindah dari Kragan, Karanganyar ke Giriroto, Boyolali tahun1959 saat menikah dengan aktivis Gerwani Sudjiatmi.

Fakta 7. Boyolali adalah Pusat kekuatan PKI tahun 1955 - 1965. Satu-satunya Kabupaten Merah di Indonesia. Giriroto Basis PKI Boyolali.

Fakta 8. 1 Oktober 1965 pagi-pagi buta, jam 02.00 Letkol Untung umumkan Dewan Revolusi di Jakarta, terjadi pembantaian umat Islam di Giriroto Boyolali.

Fakta 9. Pembalasan umat Islam terhadap PKI Boyolali/Giriroto, baru terjadi setelah RPKAD+Kodam Siliwangi merebut kembali Kodam Diponegoro. Setelah sebelumnya, selama lebih sebulan, Kodam Diponegoro direbut Tentara Merah PKI.

Fakta 10. Setelah Kodam Diponegoro direbut kembali oleh RPKAD dan Pasukan Kodam Siliwangi, baru TNI masuk ke Boyolali Ngemplak Giriroto.

Fakta 11. Saat TNI masuk ke Giriroto, Boyolali, sebagian besar pasukan Tentara Merah sudah melarikan diri. Diantaranya keluarga Widjiatno. Berdasarkan pengakuan para saksi di Tirtoyoso, Manahan Solo, keluarga Widjiatno baru pindah ke Tirtoyoso tahun 1971. Ada missing period (1966-1970) dimana Widjiatno dan keluarganya berada? Sangat Patut Diduga : Dipersembunyiannya …?

Fakta12. Ingatlah istilah-istilah populer jaman PKI ini.

1. Revolusi mental
2. Gerilya dari pintu ke pintu
3. Pekerja Partai
4. Pasoepati, dst

Ungkapan-ungkapan yang sering diucapkan Jokowi dan ibunya : ungkapan PKI. Apalagi ketika Jokowi sebutkan ingin bubarkan Babinsa. Itu = usul Aidit!

Fakta 13. Jokowi sebagai Walikota solo mendukung penuh operasi intelijen Hendropriono yang menciptakan /rekayasa "Teroris Islam" di Solo.

Fakta 14. Jokowi jadi Cawalkot Solo didukung penuh organisasi Cina Komunis Solo : Ho Hap (PMS Surakarta nama resminya)

Fakta 15. Tempat tinggal Jokowi awalnya di Solo di daerah selatan Solo yang dikenal sebagai segitiga PKI (Solo-Klaten-Boyolali). Jika ditarik sedikit keluar, daerah dimana Jokowi tinggal : Solo Selatan, Sukoharjo, Karang Anyar, Sragen, Klaten, Wonogiri: Basis PKI!

Kenapa TNI-Polri-Pemerintah berdiam diri hingga kini? Kami yakin dan percaya : Pemerintah Punya Alasan Kuat. Tunggu. Ojo grasa grusu!

By Triomacan2000 @TM2000Back 05/Aug/2014 07:12:39 PM UTC
 

Khawatirkan Kondisi RI, Panglima TNI Ajak Rakyat Bersatu

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengajak seluruh kalangan bersatu untuk menyelamatkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dia mengaku takut dengan kondisi dunia saat ini, di mana perang antara negara sudah marak terjadi.

Hal itu disampaikan Gatot dalam diskusi bertajuk "Membedah Posisi Indonesia dalam Persaingan Maritim Dunia" sebagai rangkaian acara dalam memperingati Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada tanggal 9 Februari 2016.

Dia menilai, akar konflik yang terjadi di jazirah Arab Timur Tengah adalah kepanjangan tangan kekuatan dunia dalam rangka perebutan kepentingan di jazirah Arab, yang merupakan sumber energi fosil dunia.

 "Kekayaan minyak kawasan ini (jazirah Arab) secara otomatis menarik negara-negara besar di dunia untuk melindungi kepentingan nasionalnya," ujar Gatot di KRI Makassar, Perairan Laut Jawa, Madura, Jawa Timur, Jumat (5/2/2016).

Latar belakang konflik dunia, ke depan kata dia akan disebabkan oleh kelangkaan pangan, air dan energi. Sementara menurut Gatot, Indonesia adalah salah satu dari tiga tempat yang memiliki kesuburan tanah yang bagus.

"Ke depan, konflik dunia akan berlatar belakang energi. Cadangan minyak dunia akan habis. Sementara kesuburan dunia ada tiga tempat, kita salah satunya. Kita bisa bercocok tanam sepanjang tahun," ucapnya.

Gatot mencemaskan nasib anak cucu kita nantinya yang akan lahir di masa depan. Apabila minyak dunia langka. Maka sumber pangan dan energi ada di Indonesia. Negara-negara di dunia kata dia, nanti akan mengambil apa-apa yang akan dimiliki oleh Indonesia.

"Selamatkan anak cucu kita dan NKRI. Indonesia sangat luar biasa dengan negara kepulauan terbesar. Di masa depan nanti, apakah kita, anak cucu kita akan hidup layak? Maka mari kita bersatu," tandas Gatot.
 

Tidak Ada Jokowi Tanpa Bom Tanah Tinggi?


A. Pendahuluan

Melihat komposisi elit koalisi Jokowi-JK baik sipil dan/atau purnawirawan maka sulit untuk tidak menyimpulkan bahwa koalisi ini tidak lain adalah koalisi lembaga pemikir (think-tank) bernama Center for Strategic and International Studies (CSIS) yaitu:

1. Sipil: Jusuf Wanandi (bos CSIS); Sofyan Wanandi (bos Apindo dan CSIS); Jacob Soetoyo (elit CSIS, mempertemukan Jokowi-Megawati dengan dubes-dubes negara imperialis di rumahnya); Indra J. Piliang (politisi Golkar pendukung Jokowi-JK yang berlatar belakang peneliti CSIS); The Jakarta Post (koran milik CSIS); Marie Elka Pangestu (elit CSIS); Goenawan Mohamad/GM (pendiri Tempo, bawahan CSIS); Tempo (media milik GM dan Fikri Jufri, menerbitkan berita pesanan CSIS); Todung Mulya Lubis (lawyer bos CSIS), dkk;

2. Purnawirawan terdiri atas binaan Benny Moerdani dari CSIS, antara lain: Sutiyoso (Gubernur DKI saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998); Agus Widjojo; Fachrul Razi (klik Wiranto dan pengusul Jonny Lumintang sebagai Pangkostrad), Ryamizard Ryacudu (mertuanya Try Sutrisno agen Benny); Agum Gumelar-AM Hendropriyono (bodyguard Mega atas perintah Benny); Theo Syafei (via anaknya Andi Widjajanto); Fahmi Idris (rumahnya lokasi ide Kerusuhan 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 pertama kali dilontarkan); Luhut Binsar Panjaitan (anak emas Benny Moerdani); Tyasno Sudarto; Soebagyo HS (KSAD saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998); Wiranto (agen Benny di kabinet Soeharto); TB Silalahi; TB Hasanuddin, dkk.

(Anggota sipil dan militer yang terafiliasi CSIS secara bersama-sama akan disebut sebagai "Klik CSIS").

B. Ledakan Bom Tanah Tinggi Dan CSIS

Sosok Jokowi tidak akan diciptakan CSIS apabila tokoh belakang layar Partai Rakyat Demokratik/PRD yaitu Daniel Indrakusuma alias Daniel Tikuwalu yang dilatih gerilya oleh komunis Filipina dan berhubungan dekat dengan Max Lane, komunis Australia sekaligus donatur utama PRD pada Agustus 1997 tidak membuat PRD deklarasikan perlawanan bersenjata. Seruan tersebut ditindaklanjuti dengan kedatangan tiga pemuda ke Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang untuk menyewa kamar Blok V, No. 510. Lokasi rumah susun tidak jauh dari kantor CSIS di Jl. Tanahabang III/27, Jakarta Pusat.

Menurut keterangan Ketua RT, ketiganya tidak bermasalah selama tinggal di sana sampai tiba-tiba hari Minggu, 18 Januari 1998 terjadi ledakan dari dalam kamar mereka karena percobaan merakit bom kecil yang gagal. Ketentuan rumah susun mengatur bila terjadi insiden maka listrik dimatikan, dan hal ini menyulitkan usaha tiga pemuda tadi untuk melarikan diri sehingga satu berhasil ditangkap sedangkan dua lainnya melarikan diri dengan luka bakar cukup serius. Orang yang ditangkap warga diketahui bernama Agus Priyono (kini Ketua PRD), aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi (SMID), organisasi sayap PRD dan belakangan aktivis PRD lain bernama Rahmat Basuki ditangkap di Jogjakarta.

Dari pemeriksaan aparat keamanan di lokasi ledakan ditemukan 52 alat bukti yang disita antara lain berupa: laptop berisi email, dokumen notulen rapat, beberapa paspor dan KTP antara lain atas nama Daniel Indrakusuma, buku tabungan, disket-disket, detonator, amunisi, baterai, timer dan lain sebagainya. Adapun isi e-mail dan dokumen yang ditemukan antara lain:

a. E-mail dari orang yang memakai nama "Dewa" berbunyi:

"Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima [Dari Asia Watch], sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex [Widya Siregar] bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita dalam dana, di samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh Jusuf Wanandi dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang diurus oleh Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya."

Pernyataan Dewa dibenarkan anggota PRD bahwa anak buah Sofyan Wanandi pernah menelpon mereka dan menawarkan bantuan dana sebesar US$ 15,000 yang sudah diambil sebagian sebelum bom meledak (Manuver Politik: Sofyan Wanandi & CSIS, Forum Komunikasi Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Indonesia, 1998, hal. 21).

b. E-mail lain menyebut nama Surya Paloh, bos harian Media Indonesia yang antara lain menerangkan: "Peranan Surya Paloh pada surat kabar Media sangat membantu rencana kita dalam membakar massa."

c. Adapun dokumen lainnya adalah notulen berisi pertemuan “kelompok pro demokrasi” dengan penyandang dana mereka yang berlangsung di Leuwiliang, Bogor, 14 Januari 1998 yang dihadiri oleh 19 aktivis mewakili 9 organisasi terdiri dari kelompok senior dan kelompok junior yang merencanakan revolusi. Anggota kelompok senior adalah sebagai berikut:

Pertama, CSIS bertugas membuat analisis dan menyusun konsep perencanaan aktivitas ke depan.

Kedua, kekuatan militer yang diwakili oleh Benny Moerdani.

Ketiga, kekuatan massa yang pro Megawati Soekarnoputri.

Keempat, kekuatan ekonomi yang dalam hal ini diwakili oleh Sofjan Wanandi dan Yusuf Wanandi.

Atas penemuan dokumen di atas, Jusuf Wanandi, dan Sofyan Wanandi didampingi pengacaranya Todung Mulya Lubis telah diperiksa Bakortanasda Jaya. Kemudian peristiwa tersebut ditambah fakta Sofyan Wanandi menolak membantu negara yang terkena krisis moneter karena memikirkan diri sendiri membuat kantor CSIS diterjang demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa yang antara lain menuntut pembubaran lembaga ini. Semua kejadian ini membuat klik CSIS menjadi panik dan terlihat dalam tegangnya rapat konsolidasi pada hari Senin, 16 Februari 1998 di Wisma Samedi, Klender, Jakarta Timur (dekat lokasi Kasebul) dan dihadiri oleh Harry Tjan, Cosmas Batubara, Jusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, J. Kristiadi, Hadi Susastro, Clara Juwono, Danial Dakidae dan Fikri Jufri.

Ketegangan terjadi antara J. Kristiadi dengan Sofyan Wanandi sebab Kristiadi menerima dana Rp. 5miliar untuk untuk menggalang massa anti Soeharto tapi sekarang CSIS malah menjadi sasaran tembak karena ketahuan mendanai gerakan makar. Akibatnya Sofyan dkk menuduh Kristiadi tidak becus dan menggelapkan dana. Tuduhan ini dijawab dengan membeberkan penggunaan dana terutama kepada aktivis "kiri" di sekitar Jabotabek, misalnya Daniel Indrakusuma menerima Rp. 1,5miliar dll. Kristiadi juga menunjukan berkali-kali sukses menggalang massa anti Soeharto ke DPR, dan setelah CSIS didemo, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ) yang setahun terakhir digarap segera mengecam demo tersebut. Di akhir rapat disepakati bahwa Kristiadi menerima dana tambahan Rp. 5miliar (http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/02/21/0088.html).

Demi menyelamatkan CSIS yang sudah di ujung tanduk membuat klik CSIS segera merencanakan untuk menjatuhkan Presiden Soeharto dan Prabowo Soebianto. Hasil dari rencana tersebut adalah Kerusuhan 13-14 Mei 1998 sebagaimana direncanakan oleh Benny Moerdani di rumah Fahmi Idris yang juga dihadiri oleh Sofyan Wanandi. Menurut kesaksian George Junus Aditjondro, Jusuf dan Sofyan Wanandi adalah ekstrim kanan yang tidak peduli ras atau agama, dan karena itu Tionghoa, Kristen, dan Katolik bisa dihantam bila hal tersebut menguntungkan mereka. Bukankah mereka yang menghancurkan Gereja Katolik Timor Timur? Bukankah guru mereka, Ali Moertopo yang anak kiai itu justru mendiskriditkan Islam melalui DI/TII dan GUPPI? Bukankah David Jenkins, wartawan Australia dalam orbituari Benny Moerdani, "Charismatic, Sinister Soeharto Man" menulis:

"Hardened in battle and no stranger to violence, Moerdani believed that the ends justify the means...He once shocked members of an Indonesian parliamentary committee by saying, in effect, that if he had to sacrifice the lives of 2 million Indonesians to save the lives of 200 million Indonesians he would do so."

http://www.smh.com.au/articles/2004/09/09/1094530768057.html

16 tahun kemudian, Prabowo Soebianto, orang yang pernah mereka jatuhkan karena memimpin penyelidikan atas bom Tanah Tinggi malah tidak memiliki saingan untuk menjadi presiden Indonesia berikutnya. Tentu saja mereka kembali panik sebab bila Prabowo memimpin negeri ini maka kemungkinan besar semua kejahatan mereka di masa lalu khususnya periode 1998 terbongkar. Untuk itulah klik CSIS perlu menciptakan sosok lawan tanding Prabowo dan sosok tersebut adalah Jokowi.

Proses penciptaan Jokowi dimulai pada tahun 2008 dengan mengirim Agus Widjojo untuk menjajaki kerja sama dan setelah itu penggarapan Jokowi dilakukan oleh Luhut Panjaitan anak emas Benny Moerdani dengan kedok PT Rakabu Sejahtera sedangkan kegiatan memoles citra Jokowi diserahkan kepada Goenawan Mohamad dan grup Tempo. Selanjutnya dukungan negara-negara imperialis diatur oleh Jacob Soetoyo dan Sofyan Wanandi bersama Marie Elka Pangestu sejak tahun 2013 sudah melempar wacana duet Jokowi-JK dengan gelontoran dana minimal Rp. 2trilyun (http://m.rmol.co/news.php?id=129021). Keterlibatan Surya Paloh dan Megawati dalam ledakan bom Tanah Tinggi menjawab keanehan PDIP, dan NasDem begitu saja mendukung kursi presiden kepada Jokowi dan wakil presiden kepada Jusuf Kalla (http://m.rimanews.com/read/20140413/147888/duet-jokowi-jusuf-kalla-didukung-sofyan-wanandi-apindocsiskompas-mau-diumumkan).

Sumber:  A.m. Panjaitan: http://m.kompasiana.com/post/read/674808/1/tidak-ada-jokowi-tanpa-bom-tanah-tinggi.html
 
 
Copyright © 2011. KITA BUKAN SAYA - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger