JANGAN BUAT SAKIT ORANG BILA TIDAK INGIN DI SAKITI ORANG"

Australia Peringatkan Ancaman Teror di Indonesia, Ini Respons RI

Australia mengeluarkan informasi terbaru tentang adanya kemungkinan serangan teroris di Indonesia. Peringatan ini dikeluarkan sebulan setelah serangan bom di pusat Jakarta.

Departemen Luar Negeri Australia atau DFAT mengatakan dalam buletin di laman mereka pada hari Kamis (25/2/2016), para turis hendaknya memerhatikan bahwa situasi di Indonesia kini dalam kewaspadaan tinggi, termasuk di Bali.

Laman itu tidak menjelaskan lebih lanjut tipe serangan. Namun hal itu dipercaya berupa serangan yang telah direncanakan dengan matang.

"Tingkat pemberitahuan ini secara keseluruhan tidak berubah. Warga Australia harus dalam tingkat kewaspadaan, termasuk di Bali," tulis laman itu, seperti dilansir dari The Guardian. 
"Kami juga terus menerima informasi adanya indikasi serangan lanjutan di Bali. Bisa terjadi kapan saja. Harap waspada di daerah ramai dan saat liburan," katanya.

Sehubungan dengan peringatan itu, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia merespons bahwa sejauh ini pihak Australia baru mengatakan adanya indikasi.
"Mereka hanya mengatakan adanya indikasi, dan sejauh ini mereka tidak meningkatkan travel advice ke Indonesia, atau tidak adanya kenaikan level ancaman di sini," kata juru bicara Kemlu, Arrmanatha Nasir, di Jakarta.

Kendati demikian, pria yang akrab dipanggil Tata itu mengatakan sejauh ini RI belum menerima adanya indikasi peningkatan ancaman di Indonesia. Bagaimana pun, kedua negara tetap bekerja sama dalam hal keamanan.

"Otoritas keamanan Australia dan Indonesia saling berbagi informasi terutama ke BIN dan polisi," ucap Tata.
Menurut Benua Kanguru tersebut, Indonesia telah mengalami konflik separatisme selama beberapa dekade. Laporan juga mengatakan 500 hingga 700 WNI telah terbang ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Beberapa hari lalu, pihak Kementerian Luar Negeri RI mengumumkan telah mengembalikan 217 orang Indonesia yang terkait grup teroris internasional. Paling banyak ditemukan WNI berada di wilayah Turki.
 

Arab dalam memerangi Houthi di Yaman dan Islamic State (IS/ISIS)

Panasnya suhu geopolitik di Timur Tengah diramalkan semakin menjadi. Arab Saudi, negara yang saat ini memimpin koalisi negara Arab dalam memerangi Houthi di Yaman dan Islamic State (IS/ISIS), bakal menghadapi eskalasi politik internal.
Pada tahun-tahun ini, negara warisan Ibnu Saud ini diramalkan akan mengalami peralihan kekuasaan dari generasi kedua ke generasi ketiga.Generasi kedua adalah anak-anak pendiri kerajaan itu, yakni Abdul Aziz bin Saud. Sedangkan, generasi ketiga adalah cucu-cucunya.
Dikutip dari artikel berjudul Saudi dan Problem Suksesi, Ibnu Burdah,Pemerhati Timur Tengah dan Dunia Islam, Koordinator Kajian Timur Tengah Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga (Republika, 23/2) menjelaskan, generasi kedua kerajaan yang tersisa sebenarnya masih 11 pangeran dari sekitar 37 anak bin Saud.
Putra pendiri ada yang mengatakan 35, tapi juga ada yang menyebut hingga 45 pangeran. Yang menonjol dari 11 anak itu, di samping Raja Salman adalah Muqrin bin Abdul Aziz yang sempat jadi putra mahkota.
Sementara itu, enam raja Saudi setelah bin Saud ada dua yang dari Sudairi, yaitu Fahd bin Abdul Aziz dan Salman bin Abdul Aziz raja sekarang. Sementara, dari keluarga non-Sudairi yang tersisa ada nama yang cukup menonjol, yaitu Muqrin bin Abdul Aziz.
Peralihan kekuasaan ini santer diberitakan dan jadi bahan diskusi penting di dunia Islam mengingat arti penting wilayah Saudi bagi umat Islam. Terutama, di saat-saat Raja Salman bin Abdul Aziz yang telah berusia sekitar 80 tahun itu beberapa kali harus menjalani operasi medis.
Tantangan internal ini sungguh berat ketika Raja Salman nanti meninggal. Sebab, Raja baru yang dikenal populer di kalangan penduduk Riyadh ini "mengabaikan" 11 pangeran anak-anak bin Saud yang juga saudaranya.
Dan by pass, ia mengangkat pangeran Muhammad bin Nayif (generasi ketiga dan tak memiliki keturunan laki-laki) dan Muhammad bin Salman (anaknya sendiri) sebagai waliyyul 'ahdi (putra mahkota) dan waliyu waliyyul 'ahdi (deputi putra mahkota).
Ancaman paling besar tentu dari klan Muqrin yang "dipecat" dari posisinya sebagai putra mahkota dan "kroni" Raja Abdullah. Tak hanya itu, klan lain yang sangat menonjol, seperti klan Faishal dan klan Sulthan dipreteli kekuasaannya.
Klan Sulthan (anak-anak Sulthan bin Abdul Aziz) dikenal sangat kuat. Bandar bin Sulthan, salah satunya, adalah bekas kepala intelijen negeri itu. Ia pernah dituduh berencana melakukan kudeta oleh Raja Abdullah dan sempat diusir dari Saudi. Khlaid bin Sulthan, saudaranya, juga menjabat kepala intelijen, tapi kemudian dipecat oleh Raja Salman.
Dari jalur klan Faishal juga mengalami hal yang sama. Saud bin Faishal yang menjabat menlu sekitar 40 tahun juga disingkirkan. Dan, gantinya bukan dari klan itu, tetapi dari jalur nonkeluarga. Ini sungguh mengejutkan dalam tradisi kerajaan itu. Belum lagi, anak-anak Raja Abdullah beserta "kroninya" yang juga dipreteli kekuasaannya oleh Raja Salman.
Praktis kekuasaan Saudi sekarang ada di tangan dua pangeran, yaitu dua putra mahkota. Mereka adalah Muhammad bin Nayif dan Muhammad bin Salman.
Namun, kekuasaan strategis dan de facto ada di tangan pangeran Muhammad bin Salman yang masih berusia 30 tahun. Dengan berbagai cara, kekuasaan Muhammad bin Nayif dibatasi dan ia sendiri tak mungkin mewariskan kekuasaan, sebab tak punya anak laki-laki.
Kini, Muhammad bin Salman adalah pemegang kendali Saudi, termasuk dalam perang di Yaman, Suriah, dan lainnya. Langkah agresif Saudi di luar wilayahnya menjadi pertaruhan besar pangeran muda ini dan kekuasaan ayahnya.
Agresifitas di luar itu memang bisa mengurangi persaingan keras antarpangeran untuk sementara waktu. Raja Salman terkesan kuat mengeksploitasi persoalan luar negerinya untuk membangun dominasi klan. Sejauh ini, isu itu berhasil mengonsolidasikan kekuasaan Raja Salman dan sang pangeran.
Namun, jika itu gagal, taruhannya sangat besar. Perebutan kekuasaan antarklan keluarga bani Saud akan jadi ancaman masa depan monarki itu
 

PERCUMA DIBUAT UU NO 17 TAHUN 2008 TENTANG PELAYARAN

Sedangkan PT.Pelindo I,II,II dan IV masih Berkuasa di Pelabuhan


Adanya tidak keseriuasan Pemerintah di dalam melaksanakan tugas dan fungsi secara maksimal sesuai dengan dibuatnya Undang – Undang Republik Indonesia Nomor : 17 Tahun 2008, Tentang PELAYARAN & Peraturan Pemerintah – RI, Nomor : 5 Tahun 2010, Tentang KENAVIGASIAN maupun Peraturan Pemerintah ( PP ) – RI, Nomr : 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan, PP – RI, Nomor : 21 Tahun 2010 tentang Perlindungan Lingkungan Maritim.
 
Padahal sesuai tugas dan fungsi salah satunya dalam UU No. 17 Tahun 2008 Tentang PELAYARAN, itu jelas bahwa pelayaran yang terdiri atas angkutan diperairan, kepelabuhanan, keselamatan dan keamanan pelayaran, dan perlindungan lingkungan maritim, merupakan bagian dari sistem transportasi nasional yang harus dikembangkan potensi dan peranannya untuk mewujudkan sistim transportasi efektif dan efisien, serta membantu terciptanya pola distribusi nasional yang mantap dan dinamis.
 
Kemudian tugas dan fungsi dari pada Otoritas Pelabuhan ( Port Authority ) adalah Lembaga Pemerintah di pelabuhan sebagai Otoritas yang melaksanakan fungsi pengaturan, pengendalian, dan pengawasan kegiatankepelabuhanan yang diusahakan secara komersial. Unit Penyelenggara Pelabuhan adalah Lembaga Pemerintah di pelabuhan sebagai Otoritas yang melaksanakan fungsi pengaturan, pengendalian, pengawasan kegiatan kepelabuhanan , dan pemberian pelayanan jasa kepelabuhanan untuk pelabuhan yang belum diusahakan secara komersial.
 
Mengapa PT. Pelindo I, II, III, dan IV masih berkuasa di pelabuhan, sedangkan keberadaannya di pelabuhan sebagai operator terminal penumpang, itupun sesuai Peraturan Pemerintah ( PP ) No. 56 Tahun 1992, PP No. 57 Tahun 1992, PP No. 58 Tahun 1992 dan PP No. 59 Tahun 1992.
 
Maka dibuat dan diberlakukan secara sah oleh DPR – RI, dengan persetujuan Pemerintah mengenai UU No. 17 Tahun 2008 Tentang PELAYARAN, maka dengan sendirinya mengenai PP yang mengatur PT. Pelindo I, II, III dan IV gugur dengan sendirinya secara hukum dan berdasarkan UUD 1945, serta tidak berkuasa lagi di seluruh pelabuhan.
 
Jadi DPR – RI, Pemerintah ( Presiden ) harus mengambil ketegasan jangan sampai dilakukan pembiaran sehingga dianggap pembohongan publik atau pembodohan terhadap rakyat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ).
 

Intimidasi Luhut, Kecerobohan Politik PDI-P

David Ridwan Betz : Dari Intimidasi Luhut, Kecerobohan Politik PDI-P Hingga Tak Adanya Wibawa Jokowi!
Luhut belum cukup memadai ilmu dan pengalamannya membaca arus dari level bawah, SBY sudah lebih matang untuk itu. Untuk apa orang selevel Menko membangun pernyataan seperti seorang Komandan SATPOL PP saja, kurang trampil? Kita lihat saja bagaimana perkembangan politik setelah ketua KPK merespon intimidasi LBP secara ringkas, terjungkir balik Menkopolhukam!
PDIP jangan mengulang kembali kecerobohan Soekarno berpolitik ketika sedang berkuasa yg mana akhirnya menjerat beliau sendiri ujungnya! Mungkin pesan ini sangat berguna untuk diperhatikan oleh Megawati SP meskipun ia sedang mengalami kegalauan politik saat ini.
Rakyat menilai itu sebuah beban psikologis sehingga keenam parpol tsb turut bersekongkol untuk melawan rakyat yg mendukung KPK! Karena Rakyat mengetahui apabila Ketua Partai PDIP berikut Presiden saat ini diduga tersandung dengan skandal korupsi, itu masalahnya!
Kalau kepentingan PDIP hanya untuk menjaga agar skandal korupsi BLBI dan skandal Sumber Waras bisa bernasib seperti "PKI" nanti kalian!
Pemerintah saat ini seperti mengikuti arah tali yg ditarik oleh PDIP secara tidak menentu, itu yg membuat Jokowi tak punya wibawa lagi. Karena Joko Widodo belum bisa leluasa selaku Kepala Negara yg masih tetap berlabel sebagai Petugas Partai?
Sumber: David Ridwan Betz: chirpstory.com/li/305062
 

Selamat kepada Segenap Aparatur Keamanan RI

Walaupun kita masih di bulan Februari dan ancaman terorisme masih mengintai, izinkan Blog I-I menyampaikan selamat kepada Polri, BIN, BNPT, dan TNI yang saat ini semakin kompak bahu-membahu mengatasi ancaman terorisme. Seluruh saran Blog I-I telah diperhatikan pemerintah, khususnya dalam mencegah terjadinya serangan teror susulan pada bulan Februari 2016 ini dan menumpas gerombolan Santoso yang mengatasnamakan agama untuk aksi kekerasan. Bahkan setidaknya Pemerintah melalui Menkopolhukam  dapat menjelaskan bahwa untuk menumpas gerombolan Santoso bukanlah hal yang mudah.
Apapun penjelasan Pemerintah dalam kegiatan counter terorisme dan counter radikalisme, langkah-langkah yang lebih jelas dapat kita saksikan dengan sejumlah penangkapan tersangka dan pencegahan serangan bom yang tentunya tidak menjadi berita yang heboh di media masa maupun media sosial. Prinsip kerja aparat keamanan adalah bahwa siap untuk dicaci bila gagal mencegah serangan teror, namun tidak mengharap pujian manakala negara aman tentram dan rencana serangan teror berhasil dicegah. Ucapan selamat ini bukan membuat Polri, BIN, BNPT, dan TNI terlena, tetapi diharapkan ke depan semakin solid dalam kerjasama. Dengan adanya rancangan revisi UU Anti Terorisme, langkah yang lebih tegas diharapkan dapat ditempuh dalam rangka meningkatkan upaya preventif yang lebih efektif.
Kekuatan nyata ISIS yang sebenarnya mudah dihancurkan baik oleh koalisi Barat maupun koalisi Syria, Iran, dan Rusia tampak masih seperti misteri dalam hal waktu kapan akan dihancurkan. Saat ini terjadi "kenyamanan" dalam proxy konflik geopolitik negara besar di kawasan Timur Tengah yang menyebabkan operasi militer "menghancurkan" ISIS menjadi pilihan terakhir. Sementara dampak ekspor ideologi kekerasan ISIS merupakan sumber ancaman bagi Indonesia. 
Pemahaman konflik geopolitik inilah yang seharusnya segera dijelaskan kepada masyarakat Indonesia agar tidak tertipu dengan seruan jihad kosong membela sesuatu yang tidak jelas dalam konflik di Irak dan Suriah. Kompleksitas konflik yang diwarnai faktor aliran Sunni-Shiah, etnisitas, kepentingan keberlangsungan rejim (regime survival), memerlukan kalkulasi yang matang guna mencegah meluasnya konflik menjadi perang terbuka yang disebabkan oleh kecerobohan operasi militer. Misalnya kesengajaan penembakan pesawat Rusia, atau kesengajaan serangan udara Rusia kepada kelompok yang didukung Barat dan Turki. Sejauh ini semua potensi konflik terbuka dari ketegangan konflik masih dapat dikendalikan melalui diplomasi dan semua pihak masih menahan diri dari operasi militer yang lebih besar khususnya dengan pengiriman pasukan darat.
Serangan-serangan udara adalah kegiatan operasi militer yang tidak menyasar kepada penguasaan wilayah selama pasukan darat tidak dikirimkan. Artinya hanya suatu show untuk menunjukkan ada sesuatu yang dilakukan yang mana tujuan strategisnya adalah melemahkan atau mencegah meluasnya penguasaan wilayah oleh kelompok ISIS.
Dalam aspek strategis pemahaman utuh tentang konflik di Timur Tengah terkait ISIS dan pengaruh ideologinya dapat menjadi PR dan konsentrasi utama BIN dan BNPT yang saat ini telah memiliki jaringan kerjasama internasional yang baik dalam strategis penanggulangan ancaman terorisme internasional. Kemudian apabila dapat disusun dalam suatu narasi penjelasan yang sederhana seyogyanya dapat disosialisasikan kepada masyarakat tanpa bermaksud menjadi propaganda anti perjuangan Islam. Artinya duduk perkara dan akar masalah ISIS dalam konteks Irak dan Suriah harus dijelaskan sejelas-jelasnya kepada masyarakat Muslim Indonesia. Terlebih dengan adanya peranan-peranan negara-negara kuat seperti AS, Rusia, Iran, Arab Saudi, Turki, dan Israel yang mana semuanya memiliki kepentingan sendiri-sendiri.
Seruan jihad ISIS baik untuk berperang di Irak dan Suriah maupun untuk "berperang" atau menakut-nakuti (meneror) di negara masing-masing sebenarnya telah kehilangan maknanya manakala tujuannya adalah bukan untuk kemuliaan agama Islam karena adalah kekeliruan metode pencapaian tujuan penegakan Dien Islam. Tidak ada satupun catatan sejarah yang menunjukkan bahwa metode perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan Islam dilakukan dengan jalan teror. Adapun jalan perang ditempuh manakala terjadi perlawanan/permusuhan terhadap Islam.
Baik praktisi counter-terorisme maupun pengamat yang mempelajari kitab-kitab yang menganjurkan jihad yang diterjemahkan oleh Aman Abdurrahman misalnya kitab karya Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy dapat segera menemukan bahwa argumentasi Syaikh Al Maqdisiy secara umum cukup meyakinkan karena baik kekuatan logika maupun dasar-dasar rujukan agama khususnya masalah Tauhid dan Keimanan yang digunakan dapat dikatakan tidak menyimpang. Hal ini yang mampu memberikan pesona atau daya tarik yang besar dari argumentasi jihad para pengikut Aman Abdurrahman. Akan percuma apabila counter argumentasi dilakukan hanya berdasarkan pada Islam moderat, Islam Nusantara, atau Rahmat alam semesta karena hal itu dapat dengan mudah dibantah dengan tuduhan kemunafikan atau tidak menjalankan Islam secara utuh atau bahkan kesesatan.

Persoalan yang harus dibongkar bukan pada soal jihadnya karena tidak ada masalah dengan jihad. Persoalan utama yang harus dijelaskan kepada umat Islam Indonesia agar memahami fenomena Al Qaeda maupun ISIS adalah konflik geopolitik yang terjadi di wilayah yang penduduknya mayoritas Muslim dan berusaha bertahan untuk hidup di negeri kelahirannya. Bagi mereka jihad adalah wajib karena bila tidak berjihad maka desa mereka akan dihancurkan. Kemudian apakah berarti seruang menolong sesama Muslim merupakan tipuan? bukan demikian. Seruannya adalah benar untuk menolong sesama Muslim, tetapi yang keliru ketika pertolongan itu diwujudkan dalam pertunjukkan pelaksanaan eksekusi mati dengan cara-cara yang yang menurut ISIS sesuai syariah namun tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Misalnya hukuman membakar pilot Yordania dengan alasan qisas karena pemboman dengan pesawat telah membakar manusia dan rumah-rumah penduduk, kemudian hukuman mati bagi mereka yang mempraktekan homoseksualitas dengan dilempar dari gedung tinggi yang dimisalkan dengan rajam yang lebih efektif. Pelaksanaan hukuman tersebut berdasarkan tafsir ulama ISIS yang sebenarnya dapat dikatakan mengada-adakan sesuatu yang baru dengan mengatasnamakan agama.

Serangan ideologi yang juga cukup serius dan logis adalah sorotan terhadap "agama syrik demokrasi" (الديمقراطية دين) karya Al Maqdisiy dimana tuduhan menuhankan demokrasi secara sederhana dapat dipahami. Upaya meluruskan tuduhan ini tidak akan efektif apabila counter-argumentasinya semata-mata menyalahkan cara pandang Islam terhadap demokrasi. Sejarah pertentangan agama dan demokrasi telah terjadi di dunia Kristen Barat dimana pengaruh gereja akhirnya secara nyata tergerus oleh pemisahan gereja dan negara dan sekulerisme menjadi pilihan sebagian terbesar negara-negara modern saat ini. Sekali lagi konteks perlawanan Al Maqdisiy adalah kepada fakta bahwa pemerintah negara-negara di Timur Tengah adalah tidak demokratis, dikuasai oleh elit keluarga, dan berdasarkan pada nasab keturunan. Kemudian demokrasi dipropagandakan oleh Barat ke Timur Tengah yang kemudian memuncak dan marak dengan apa yang disebut Arab Spring. Bagi Al Maqdisiy, karena baik kerajaan maupun demokrasi semuanya tidak Islami. Hal ini kemudian di Indonesia menjadi ispirasi untuk menyebut Pemerintah RI sebagai thagut sebagai dipropagandakan oleh Abu Bakar Ba'asyir dan Aman Abdurrahman.

Tidak terasa, artikel ini menjadi menyimpang dari tujuan menyampaikan ucapan selamat dan menyerukan agar aparat keamanan terus berjuang menegakkan ketertiban dan memberikan rasa aman kepada rakyat Indonesia. Perlu diingat bahwa tugas mulia tersebut tidak akan berhenti selama akar masalah berupa pemahaman konteks sejarah, fakta konflik, dan siapa memainkan peran apa dalam konflik di Timur Tengah dan fenomena terorisme tidak diungkapkan kepada masyarakat Indonesia. Andaipun rakyat Indonesia sudah semakin cerdas dan paham, jangan lupa bahwa masih ada faktor ikatan emosional persaudaraan seagama yang menyebabkan mudahnya terjadi manipulasi maupun sikap murni untuk memperjuangkan apa yang diyakini sebagai kebenaran.

Demikian, terima kasih dan semoga bermanfaat.
SW 
 

AWAS....!!!!!!!!!!! ANCAMAN TEROR : Bendera Hitam Nusantara


 
Menerima informasi tentang peningkatan kegiatan sel kelompok teroris yang menamakan dirinya Bendera Hitam Nusantara aka Katibah Nusantara aka Ad Daulatul Islamiyah Melayu (cabang Malaysia) yang berada di Indonesia dan Malaysia. Hal ini dapat menjadi peringatan akan terjadinya serangan teror yang merupakan kelanjutan dari serangan Teror Thamrin pada Januari 2016 dan kegagalan serangan teror Tahun Baru Imlek dan Valentine 2016.

Sebelumnya kami sampaikan apresiasi kepada Polri, BIN, TNI, dan BNPT atas kerja kerasnya mencegah sejumlah rencana teror pada bulan Februari ini, tetapi meskipun puluhan tersangka telah ditangkap dan sejumlah aktifitas dapat dideteksi, ternyata masih terdapat beberapa sel rahasia yang belum terdeteksi sepenuhnya.

Waktu serangan diperkirakan antara tanggal 16 Jumadil Awal 1437 s/d 6 Jumadil Akhir 1437
Perkiraan lokasi serangan di Indonesia adalah sebagai berikut:
Jakarta, Bali, Surabaya, Poso, Makassar, dan Solo. Lokasi persisnya sulit untuk dipastikan, namun semua tempat keramaian yang menjadi simbol AS/Barat, tempat maksiat, simbol/pendukung LGBT, Gereja, Kedutaan Besar, Mall/tempat perbelanjaan modern dan lokasi dimana terdapat patung-patung besar perlu mendapatkan pengamanan ekstra guna deteksi dini dan cegah dini. 
Lokasi serangan di Malaysia menjadi urusan aparat keamanan Malaysia, namun besar kemungkinan di Kuala Lumpur atau Putrajaya.
Demikian peringatan singkat ini, semoga Polri, BIN, TNI, dan BNPT dapat terus meningkatkan kewaspadaan mencegah rencana teror sebagaimana sukses besar mengamankan Tahun Baru Imlek dan saat Valentine. 
kcb.2001
 

Aliran Baru, Umat Kristiani di Surabaya Resah








SURABAYA - Setelah publik dihebohkan dengan seorang pria bernama Jari, warang Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh, Jombang yang mengaku sebagai Isa Habibulloh, kali ini umat Kristiani di Surabaya resah karena munculnya aliran Persekutuan Doa (PD) Oikomene Kasih.

Aliran yang dipimpin oleh seorang perempuan Deborah Hilmy itu dianggap menyimpang. Pasalnya, aliran tersebut memerintakan jemaatnya bercerai dengan dalil perintah Tuhan.

Ajaran yang dianggap menyimpang itu kemudian diadukan ke Badan Musyawarah Antar-Gereja (Bamag) Surabaya. Pendeta Yasin Yohanes bersama sejumlah tokoh Kristen Surabaya mendatangi Kantor Bamag Surabaya di Jalan Ngunden Intan Timur, Surabaya.

Pendeta Yasin mengatakan, aliran tersebut dapat memicu polemik di kalangan umat Kristiani Surabaya. Bahkan, munculnya aliran membuat banyak jemaat yang hijrah ke PD Oikomene Kasih.

"Saya melihat jemaat yang mengikuti ajaran ini suami-istri bebas diceraikan atasnama Tuhan," kata Pendeta Yasin di Kantor Bamag, Surabaya, Rabu (24/2/2016).

Ia menjelaskan, dalam kehidupan suami istri memang tak luput dari pertengkaran. Namun, perceraian dilarang dalam kitab Injil. "Kalau ada perceraian didasari perintah Tuhan ini kan menyimpang," katanya.
Selain ajaran terkait perceraian atas perintah Tuhan, aliran PD Oikomene Kasih juga memberikan pemahaman bahwa seorang anak boleh melawan orangtuanya. Bahkan, aliran tersebut mengutuk pengikutnya yang tidak taat kepada pimpinannya yakni Deborah Hilmy.

Ketua Bamag Surabaya Pendeta Sudi Daharma mengatakan, dari hasil investigasi membenarkan adanya penyimpangan ajaran Deborah Hilmy. Di Kristen memang banyak aliran tapi sumbernya harus satu yaitu Alkitab.
kcb.2000
 

Mulai Kehilangan Posisi, ISIS Pasang Bom di Alquran

Militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mulai kehilangan posisi di Suriah dan juga Irak. ISIS menggunakan segala macam cara untuk melakukan serangan teror, termasuk memasang bom di Alquran.

Disampaikan juru bicara koalisi pimpinan Amerika Serikat melawan ISIS, Kolonel Steve Warren, seperti dilansir PressTV, Rabu (24/2/2016), ISIS mulai bertindak nekat, salah satunya dengan meninggalkan jebakan bom di wilayah-wilayah yang terlepas darinya.

"Orang-orang ini menjijikkan, mereka meninggalkan bom di dalam kulkas... mereka memasang bom di Alquran -- kami menemukannya dalam beberapa kesempatan di Ramadi (Irak)," sebut Warren saat berada di kantor Kementerian Luar Negeri Inggris awal pekan ini.

Dituturkan Warren, saat ini ISIS telah kehilangan sekitar 40 persen wilayah kekuasaannya, baik di Suriah maupun Irak. Kekuatan pasukan ISIS, menurut Warren, juga mulai menurun. Bahkan ISIS mulai mengerahkan pasukan anak-anak karena aliran militan asing ke wilayahnya berkurang drastis.

Memasang peledak di lokasi maupun objek tak diduga, termasuk di Alquran, sebenarnya bukan teknik baru ISIS. Pada Juni 2015 lalu, setelah memukul mundur ISIS dari wilayah Diyala, tentara Irak menemukan sejumlah Alquran yang di dalamnya dipasangi bom di lokasi-lokasi yang sebelumnya dikuasai ISIS.

Aksi kekerasan menyelimuti wilayah utara dan barat Irak sejak ISIS melancarkan serangan teror pada Juni 2014 lalu. ISIS kemudian berhasil menguasai sebagian wilayah Irak.

Militan radikal ini mendalangi serangkaian tindakan keji terhadap seluruh etnis dan komunitas keagamaan di Irak, termasuk Syiah, Sunni, Kurdi, Kristen dan sebagainya. Militer dan milisi Irak, dengan bantuan serangan udara koalisi AS, kini berupaya keras merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai ISIS

sumber : http://news.detik.com/internasional/3150159/mulai-kehilangan-posisi-isis-pasang-bom-di-alquran
 
 
Copyright © 2011. KITA BUKAN SAYA - All Rights Reserved

Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile

Proudly powered by Blogger