Kerja sama bilateral Indonesia-Australia berupa pertukaran intelijen diharapkan dapat memberantas terorisme di kedua negara.
“Aksi terorisme yang dapat mengganggu keamanan negara harus dicegah dan tidak boleh dibiarkan berkembang,” kata Pengajar Hukum Internasional Universitas Sumatera Utara (USU), Profesor Suhaidi di Medan, Kamis (24/12).
Aksi terorisme yang banyak terjadi saat ini, menurut dia bukan hanya tantangan bagi Indonesia dan Australia, tetapi merupakan musuh bagi negara-negara di dunia.
“Kegiatan terorisme tak boleh dibiarkan hidup, dan sekecil apa pun aksi mereka yang meresahkan masyarakat itu harus dihapuskan,” ujar Suhaidi.
Dia menjelaskan, kerja sama kedua negara harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Indonesia. Hanya saja, diperlukan sikap ekstra hati-hati, karena perbedaan pola pikir kedua negara dalam memandang terorisme.
“Hal ini perlu menjadi perhatian bagi Indonesia dalam kerja sama pertukaran intelijen dengan Australia. Apalagi, dalam hal ini mencegah aksi teroris yang sangat membahayakan,” ujarnya.
Suhaidi menambahkan, di Indonesia masih terdapat kelompok terduga teroris dan mencoba melakukan aksi-aksi, serta perbuatan melanggar hukum. Tetapi, aksi mereka tersebut lebih dahulu diketahui petugas kepolisian dan melakukan penangkapan.
Bahkan, kelompok terduga terorisme itu, akan merencanakan melakukan aksi mereka pada akhir 2015 ini. “Polri dan aparat keamanan terkait lainnya diharapkan dapat mewaspadai dan mengantisipasi aksi terorisme di Indonesia,” tegasnya.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti menyatakan pihaknya telah menangkap sembilan orang terduga teroris di lima tempat berbeda. Antara lain Cilacap, Tasikmalaya, Sukoharjo, Mojokerto, dan Gresik pada 19 sampai 20 Desember 2015.
“Mereka ini ada yang eks Jamaah Islamiyah (JI) dan ada juga korelasinya dengan ISIS,

Posting Komentar